Free Essay

Daiwa Bank Operational Management Case

In: Business and Management

Submitted By lindaping
Words 4935
Pages 20
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bank adalah lembaga keuangan yang sangat berperan penting dalam perkembangan ekonomi terutama sejak awal abad ke 19 dan telah mengalami transformasi dan pendalaman fungsi dari hanya menjadi perantara keuangan dengan produk sederhana seperti deposito dan pinjaman sehingga menjadi sangat kompleks dan bervariasi antara lain dari segi skala, ukuran, produk, teknologi, konsentrasi jenis bank dan pangsa pasar. Dengan kompleksitas usaha dan produk yang terus meningkat tersebut, bank menghadapi banyak tantangan dan permasalahan yang harus dikelola dengan baik agar dapat bertahan dan terus berkembang sejalan dengan tujuan perusahaan dan pertumbuhan ekonomi.
Salah satu masalah yang sangat penting dan menjadi perhatian baik dari kalangan bank ataupun regulator, adalah masalah operasional. Manajemen operasi dilaksanakan untuk melakukan mitigasi risiko kerugian yang mungkin terjadi karena masalah operasional. Manajemen risiko operasional dilakukan dengan melaksanakan prinsip kehati-hatian dalam menjalankan aktivitas operasionalnya. Sementara, pengelolaan sedapat mungkin terintegrasi dalam satu sistem pengelolaan risiko yang akurat dan komprehensif dan mampu menganalisa dan mengelola seluruh risiko yang terkait, di mana risiko operasional adalah elemen yang tak terpisahkan di dalamnya.
Masalah operasional yang umumnya terjadi di dalam bank adalah ketidakcukupan dan/atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, atau adanya problem eksternal yang mempengaruhi operasional bank. Termasuk di dalamnya adalah proses administrasi serta sistem dan prosedur.
Sejalan dengan perkembangan perbankan, banyak terjadi kasus perbankan yang terkait masalah operasional dan telah menimbulkan kerugian yang tidak sedikit bagi bank bahkan sampai menyebabkan kebangkrutan. Penyebab utama mengapa terjadi masalah operasional ini umumnya adalah karena kegagalan pengendalian/ failure on control dan teknologi/ globalisasi. Di samping itu, ada unsur-unsur perubahan yang dapat menjadi pemicu masalah operasional, antara lain otomatisasi, ketergantungan pada teknologi, outsorcing, terorisme, peningkatkan globalisasi, insentif dan perdagangan aktif, peningkatan jumlah dan volume transaksi serta peningkatan litigasi hokum.
Contoh yang sering disebutkan untuk masalah operasional perbankan adalah kasus yang terjadi pada Barings Brothers and Co. Ltd, London, yang mengalami kebangkrutan setelah rugi trading sebesar GBP 827 juta. Akar masalah kasus ini adalah karena kegagalan proses dan prosedur pengendalian internal. Seorang trader di Singapore yang bekerja di Singapore Futures Exchange berhasil menyembunyikan kerugian tersebut selama lebih dari dua tahun. Akar masalah ini adalah karena trader ini dapat bertindak selaku front office dan back office sehingga dapat melakukan otorisasi terhadap transaksi yang dibuatnya sendiri/ tidak adanya segregation of duties.
Contoh lainnya adalah ketika UBS Warburg, sebuah bank di Swiss, pada akhir November 2001, mengalami kerugian sebesar USD 50 juta dikarenakan salah seorang staffnya salah menjual 610,000 lot saham perusahaan Densu untuk harga sebesar JPY 16 per satuan, padahal seharusnya melakukan penjualan 16 lot saham dengan harga JPY 610,000 per satuan. Dalam hal ini, alert warning yang terdapat pada sistem komputer menjadi salah satu topik perdebatan.

1.2 Tujuan dan Manfaat Penulisan

Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan di atas, menjadi penting untuk menganalisa bagaimana sebuah masalah operasional terjadi dan apa akibatnya terhadap bank tersebut secara khusus dan kepada regulator serta bahkan sistem perbankan secara keseluruhan. Lebih lanjut lagi, kita dapat melihat apa sebenarnya titik tolak masalah yang terjadi dan apa yang telah dilakukan untuk mengatasinya. Untuk learning point, tentunya tindakan pencegahan apa yang perlu diimplikasikan agar hal serupa tidak terjadi di masa mendatang dan tentunya harus dapat dikembangkan untuk mengantisipasi persoalan-persoalan lain yang mungkin terjadi terkait masalah operasional.

1.3 Ruang Lingkup dan Batasan Masalah

Ruang lingkup penulisan laporan ini adalah masalah operasional yang pernah terjadi di salah satu bank dan memberikan dampak yang cukup serius tidak hanya kepada bank tersebut, namun juga kepada dunia perbankan internasional, termasuk regulator dan lembaga keuangan lainnya.
Kasus yang diambil adalah kasus pada tahun 1995 yang menimpa sebuah bank Jepang, Daiwa Bank, Ltd. (sekarang bernama Resona Bank, Ltd.) yang membuka cabang di United States, sehingga melibatkan pemerintahan dua negara dan dampak yang ditimbulkan tidak hanya berupa materi namun juga reputasi dan hal-hal lainnya yang bersifat non materi.
Uraian dan analisa kasus adalah sebatas satu kejadian tersebut, dengan mengulas latar belakang dan detail kejadian serta penyelesaian kasus dan dampak yang diakibatkan kasus tersebut kepada pihak-pihak terkait seperti bank itu sendiri, bank sentral di Jepang dan United States, pemerintah Jepang dan US serta perbankan internasional.

1.4 Metode Penulisan

Data dikumpulkan dari berbagai sumber baik berupa dokumen resmi lembaga keuangan, regulator ataupun media massa. Selain itu juga terdapat data internal perusahaan seperti keadaaan perusahaan pada waktu terkait, waktu selanjutnya dan perbandingannya dengan kondisi terkini. Kemudian, juga dimasukkan sekilas data terkait kasus-kasus operasional perbankan yang terjadi dalam kurun waktu dua tahun terakhir dan menjadi bahan pembelajaran dunia perbankan secara internasional.
Dalam proses tinjuan teori, selain teori manajemen operasi juga dimasukkan teori tentang manajemen risiko operasional perbankan sebagai pelengkap dan ditujukan untuk upaya pencegahan masalah operasional perbankan.

1.5 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan disusun sebagai berikut :
Bab I Pendahuluan
Bab ini memberikan gambaran umum tentang penulisan yang terdiri dari beberapa sub bab, yang menguraikan tentang latar belakang, tujuan dan manfaat penulisan, ruang lingkup dan batasan masalah, metode penulisan serta sistematika penulisan.
Bab II Tinjauan Kasus
Bab ini memberikan penjelasan tentang sejarah, uraian, penyelidikan dan penyelesaian kasus. Juga digambarkan sekilas kondisi Daiwa Bank kemudian dan kondisi terkini..
Bab III Pembahasan Bab ini membahas tentang tinjauan teori dan analisa kasus.
Bab IV Penutup
Bab ini menguraikan mengenai keimpulan dan saran berdasarkan bab-bab sebelumnya.
Lampiran Sekilas Kasus-Kasus Perbankan Terkait Masalah Operasional

BAB 2
TINJAUAN KASUS

2.1 Sejarah Bank Daiwa, Ltd.

The Osaka Nomura Bank, sebagai cikal bakal The Daiwa Bank, Ltd. (selanjutnya disebut sebagai “Daiwa”), didirikan di Osaka pada Mei 1918 oleh Tokushichi Nomura dan kemudian memulai kegiatannya pada bulan Agustus tahun yang sama di pusat perdagangan di jepang saat itu, yaitu di Osaka. Pada tahun 1927, namanya kemudian diganti menjadi The Nomura Bank, Ltd. dan ditetapkan bahwa bank ini akan berkonsentrasi pada pendanaan untuk perusahaan kecil dan menengah/ small and medium-sized enterprises. Berdasarkan target pasar perbankan dan untuk lebih berkonsentrasi pada pasar sekuritas yang sedang berkembang saat itu, maka dibentuklah perusahaan sekuritas terpisah dan dikenal sebagai The Nomura Securities., Co. Ltd. Tokushichi Nomura, Founder

Pada Tahun 1948, The Nomura Bank, Ltd. Melakukan penggantian nama menjadi The Daiwa Bank, Limited – artinya great harmony dalam bahasa Jepang dan kemudian pada tahun 1958, melakukan investasi di Indonesia dengan membentuk bank campuran yang diberi nama PT. Perdania Bank (kemudian diganti namanya menjadi PT. Bank Daiwa Perdania pada tahun 1994 dan PT. Bank Resona Perdania kemudian)
Seiring dengan perkembangan ekonomi Jepang yang meningkat, Daiwa Holding saat itu menjadi satu-satunya perusahaan keuangan yang mempunyai konsentrasi bisnis pada small-medium sized enterprise, pension funds dan securities. Daiwa kemudian membuka banyak cabang di luar negeri sebagai implementasi strategi perluasan usaha di luar Jepang yaitu di New York tahun 1956, di London pada tahun 1958, Los Angeles tahun 1970, Frankfurt tahun 1971, Hong Kong tahun 1976 dan Singapore tahun 1979. Pada tahun 1980-an, Daiwa memulai langkahnya yang sangat agresif pada saat itu yaitu memasuki perdagangan dalam perbankan dan sekuritas secara aktif baik di kantor dalam negeri ataupun di kantor luar negeri. Daiwa Bank saat itu menjadi sangat unik dan kuat sebagai satu-satunya bank Jepang yang aktif secara internasional dalam perbankan, trust dan sekuritas. Dalam perkembangannya, pada tahun 1994, Daiwa telah meiliki asset sebesar USD 11.9 milyar di United States dan sebesar USD 176.1 milyar di global asset dengan jumlah kantor sebanyak 260 cabang di Jepang dan 36 cabang lainnya di luar Jepang termasuk di antaranya 18 cabang di United States. Jumlah pegawai Daiwa saat itu adalah sekitar 10,000 orang.

2.2 Uraian Kasus

Pada tahun 1995, terjadi skandal perbankan yang dialami oleh Daiwa kantor cabang New York yaitu kerugian hampir sebesar USD 1.1 milyar USD yang diakibatkan oleh salah seorang senior bond trader Daiwa, Toshihide Iguchi, karena kekalahan perdagangan di bond market, yang melibatkan 30,000 transaksi yang tidak diotorisasi selama lebih dari 11 tahun sejak tahun 1984. Kemudian Daiwa juga dikenakan denda oleh pemerintahan federal karena dituduh tidak melaporkan dan menutupi kejahatan yang dilakukan oleh Iguchi termasuk penjualan aset nasabah yang tidak diotorisasi, dengan tujuan untuk menutupi kerugian. Selain itu Daiwa juga diberikan waktu selama 90 hari untuk menutup seluruh kantor cabangnya di United States.
Berikut adalah penjelasan secara detail tentang kasus tersebut yang dirangkum dari berbagai media dan juga press release yang dikeluarkan lembaga resmi keuangan.

Bagaimana urutan peristiwa dalam kasus Daiwa?

13 Juli 1995 - Toshihide Iguchi, seorang senior bond trader Daiwa cabang New York menulis surat pengakuan sepanjang 30 halaman bahwa dia telah mengalami kerugian sebesar USD 1.875 milyar selama melakukan transaksi perdagangan US Treasury Bonds yang telah berlangsung sejak tahun 1984.
21 Juli 1995 – Iguchi mengirimkan surat kedua mengenai cara untuk mengatasi masalah tersebut.
24 Juli 1995 – Terjadi pembicaraan via telepon antara pejabat Daiwa di Jepang dengan Iguchi bahwa mereka telah menerima surat dan mengetahui masalahnya.
27 Juli 1995 – Daiwa melakukan rencana untuk menjual USD 500 juta dari preferred stock dan melakukan rencana dalam waktu dua bulan untuk mengatasi kerugian tersebut.
28 Juli 1995 – Iguchi bertemu dengan manajemen Daiwa dan setuju untuk tidak mempublikasikan masalah ini sampai November 1995.
8 Agustus 1995 - Japans Ministry of Finance diberitahukan secara informal oleh Daiwa.
18 September 1995 – Daiwa melaporkan kerugian tersebut secara formal kepada US Federal Reserve Board.
23 September 1995 - Iguchi diinterview oleh FBI agents yang kemudian menangkapnya.
26 September - Iguchi dipecat oleh Daiwa dan kasus tersebut diberitakan secara resmi kepada masyarakat.
20 Oktober 1995 - Iguchi mengaku bersalah di depan Manhattan Federal Court namun dia juga bersaksi bahwa setelah dia mengakui perbuatannya kepada Daiwa, dia masih diminta untuk menutupi kejadian itu terkait dokumentasi. Iguchi juga mengatakan bahwa pada tahun 1989 dan 1992, Daiwa telah membohongi state and federal regulator dengan memberitahu bahwa bank’s trading operation telah dipindahkan dan terpisah dari fungsi pengawasan dan record-keepers karena sebenarnya kedua bagian ini tetap dilakukan oleh pihak yang sama walaupun kantornya secara fisik telah terpisah.
23 Oktober 1995 – Daiwa mengakui kepada Manhattan Federal Court bahwa mereka meminta Iguchi untuk merahasiakan kejadian tersebut walaupun Iguchi telah mengakuinya pada bulan Juli 1995.
31 Oktober 1995 – Daiwa menulis surat pernyataan secara resmi kepada Japan Ministry of Finance mengenai detail kerugian dan rencana restrukturisasi.
Oktober 1995 – Ex General Manager Daiwa Bank New York dituntut dua bulan penjara dan satu tahun masa percobaan serta denda sebesar USD 100,000 karena membantu menyembunyikan dan menutupi kejahatan pada kasus Daiwa.
2 November 1995 - US authorities memerintahkan Daiwa untuk menutup kantornya dan menghentikan aktivitasnya di United States dalam waktu 90 hari.
3 November 1995 – Japan’s Ministry of Finance memerintahkan Daiwa untuk mengurangi aktivitasnya di luar negeri (termasuk perdagangan bond) dan mengurangi loan outstanding serta mengurangi securities holding.
6 November 1995 – Bank of Japan mengumumkan bahwa mereka akan melaksanakan audit bulanan kepada Daiwa dan bukannya tiga tahunan seperti yang umumnya berlaku saat itu.
Akhir Januari 1996 – Daiwa menutup kantor cabang new York
Akhir January 1996 - Daiwa setuju untuk menjual semua aset dan kantornya di US kepada The Sumitomo Bank, Ltd.
February 1996 - Daiwa setuju untuk membayar denda USD 340 juta, salah satu denda terbesar saat itu untuk kasus perbankan.
December 1996 - Iguchi dikenakan hukuman empat tahun penjara dan denda sebesar USD 2.6 juta.
20 September 2000 – Pengadilan Osaka board members and executives Daiwa saat itu dan sebelumnya untuk membayar kepada bank sebesar USD 775 juta sebagai restitusi kepada pemegang saham.

Siapakah Toshihide Iguchi?

Lahir di Kobe, Japan pada tahun 1951, Iguchi melanjutkan sekolah di Missouri State University jurusan Psychology dan bekerja di di Daiwa New York bagian securities custody sejak tahun 1976. Pada tahun 1980, dia dipromosikan menjadi portofolio manajer.
Pada tahun 1983, dia mengalami kerugian perdagangan sebesar USD 70,000 dan menyembunyikannya demi menyelamatkan reputasi dan pekerjaannya. Dia terus melakukan perdagangan untuk menutupi kerugian ini namun ternyata kerugian terus bergulir seperti bola salju, dan bahkan dia dibantu oleh dua orang trader lainnya yang bergabung pada tahun 1988 pada saat kerugiannya sudah mencapai lebih dari USD 75 juta. Iguchi terus menyembunyikan kerugian ini dari internal audit dan juga audit pemerintah serta pemerintahan federal.
Pada tahun 1995, karena takut akan kerusakan yang dapat ditimbulkan, dia menulis surat pengakuan kepada Presiden Daiwa mengenai apa yang telah terjadi. Saat itu, kerugian sudah mencapai lebih dari USD 1 milyar.
Iguchi ditangkap dan ditahan sementara selama 15 bulan dan kemudian dijatuhi hukuman empat tahun penjara. Selama masa penahanannya, dia menulis buku dalam bahasa Jepang tentang kisah hidupnya di Amerika dan menjadi best seller di Jepang. Setelah bebas pada tahun 1999, Iguchi tinggal di Atlanta, Georgia untuk menjadi penulis dan menghasilkan banyak buku sukses di antaranya adalah My Billior Dollar Education.

2.3 Penyelidikan dan Penyelesaian Kasus

Tuduhan yang dilancarkan oleh Manhattan Federal Court

Pada November 1995, Manhattan Federal Court menuntut Daiwa dengan alasan konspirasi, kejahatan surat menyurat dan telex, menghalangi pemeriksaan lembaga keuangan, pemalsuan dokumen bank, dan melanggar hukum karena tidak melaporkan kejahatan federal. Tuduhan ini diakibatkan adanya penjualan securities yang tidak mendapatkan otorisasi pada rekening kustodian Daiwa, termasuk di dalamnya penjualan lebih dari USD 375 juta milik nasabah, yang dilakukan oleh Toshihide Iguchi, ex Executive Vice President, untuk menutupi kerugian yang dialami. Selain itu, Daiwa juga diindikasikan menghalangi dan menutupi kejadian ini, dengan tidak melaporkan kejadian ini, yang telah diketahui sejak pertengahan Juli 1995, melainkan melakukan hal sebagai berikut: (1) melakukan pembukuan palsu untuk menyembunyikan kerugian yang terjadi (2) memindahkan dan menyembunyikan bukti-bukti kejahatan dari kantor cabang Daiwa di New York ke apartemen manajer cabang New York (3) mengirimkan informasi palsu ke nasabah (4) mengirimkan laporan palsu ke Federal Reserve Board dan berusaha untuk menghalangi pemeriksaan hukum dalam pengungkapan kasus ini (5) memberikan informasi palsu tentang lokasi dan pengawasan trader Daiwa dikenai tuntutan maksimum di atas USD 1 milyar, tidak hanya karena ulah Toshihide Iguchi, namun juga karena usaha untuk menutupi kejahatan ini, yang dilakukan oleh para pejabat tingginya antara lain yang juga dikenai tuntutan adalah Masahiro Tsuda, sebagai General Manager cabang New York. Selain itu, Daiwa juga diminta untuk menutup operasinya di United States selambatnya pada tanggal 2 Februari 1996.

Pernyataan Alan Greenspan, Chairman, Board of Governors of the Federal Reserve System

Dalam pernyatannya di depan U.S. Senate pada tanggal 27 November 1995, Alan Greenspan, Chairman, Board of Governors of the Federal Reserve System, menjelaskan hal-hal sebagai berikut berdasarkan hasil penyelidikan pemerintahan United States:
 Pada tanggal 18 September 1995, Daiwa Bank bertemu dengan Fed dan melaporkan bahwa telah terjadi kerugian sebesar USD 1.1 milyar yang disebabkan oleh perdagangan yang dilakukan oleh Toshihide Iguchi, pejabat kantor cabang New York, selama sebelas tahun.
 Walaupun Daiwa telah mengetahui kejadian ini sejak Juli, namun mereka menutupi hal ini selama dua bulan dan bahkan mereka meminta Iguchi untuk tetap melakukan perdagangan untuk menutupi kejadian tersebut.
 Pejabat di Japanese Ministry of Finance yang telah mengetahui kejadian ini sejak Agustus, tidak memberitahu U.S. authorities dan juga tidak memerintahkan Daiwa untuk memberitahu U.S. authorities.
 Finance Minister Takemura mengakui kelalaian ini dan berjanji akan berkomunikasi langsung kepada U.S. authorities apabila terjadi suatu masalah.
 Pada 2 Oktober 1995, , the New York Superintendent of Banks dan the Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC), bersama-sama dengan the Federal Reserve Board, menerbitkan surat perintah agar Daiwa menghentikan kegiatan perdagangannya di United States. Kemudian, pada 2 November 1995, Daiwa dituntut untuk membayar denda dan menutup seluruh kegiatan operasi perbankannya paling lambat pada Februari 1996.
 Kasus ini menimbulkan dampak sangat serius bagi penerapan pengawasan dan peraturan perbankan multinasional di mana tidak hanya terjadi kejahatan dalam waktu yang begitu lama oleh seorang penjabat kantor cabang, namun bahkan pejabat senior Daiwa melakukan cara untuk menutupi keajdian kejahatan ini dan tidak melaporkannya sesegera mungkin. Kasus ini mengganggu kepercayaan dan integritas dalam sistem perbankan yang merupakan modal utama dalam membangun system perbankan yang kuat dan berskala besar dan multinasional.
 Karena semua hal yang telah disebutkan di atas, kasus Daiwa ini tidak dapat ditoleransi oleh United States sehingga denda dan hukuman yang dijatuhkan adalah sangat beralasan.

2.4 Kondisi Selanjutnya

Berikut adalah kondisi selanjutnya yang terjadi akibat kasus Daiwa yang dapat dikelompokkan menjadi dampak internal, yaitu yang dilakukan dan atau terjadi di Daiwa dan dampak eksternal yaitu yang dilakukan dan atau terjadi di luar Daiwa.

Kondisi internal adalah sebagai berikut:

• Penutupan semua kantor di United States dan penjualan aset di United States kepada Sumitomo Bank Ltd.

• Pembayaran denda sebesar USD 340 juta kepada pengadilan di United States.

• Para pejabat Daiwa mengundurkan diri setelah kejadian tersebut yaitu Presiden Akira Fujita, Chairman Sumio Abekawa, Wakil Presiden Kenji Yasui dan Managing Director Hiroyuki Yamaji.

• Perombakan sistem yang digunakan.
Daiwa melakukan perubahan sistem secara besar-besaran yang meliputi semua kantor di Jepang, China, Indonesia, Singapura, Korea Selatan, Thailand dan Eropa. Saat itu, Daiwa menggunakan jasa outsource company, IBM, untuk menyelesaikan proyek tersebut. Ini di luar kebiasaan bank Jepang yang umumnya memilih internal tim untuk melakukan perubahan sistem ataupun memilih perusahaan Jepang juga sebagai vendor.

• Merubah keputusan strategis untuk mengembangkan pasar internasional dan melakukan transformasi kembali berfokus pada core domestic business. Hal ini menyebabkan penutupan secara bertahap semua kantor cabang di luar negeri sejak tahun 1995 sehingga pada tahun 1998, satu-satunya “jejak” Daiwa di pasar internasional adalah sebagai pemilik dari Bank Daiwa Perdania di Jakarta yang merupakan perusahaan lokal dan bukan kantor cabang. Walaupun demikian, Daiwa tetap membuka kantor perwakilan/ representation office di beberapa tempat seperti Singapore, Hongkong, Bangkok, Shanghai, London dan Paris.

• Turunnya target profit karena perubahan keputusan strategis. Presiden Daiwa saat itu, Takashi Kaiho, memberitahukan bahwa dengan menghentikan operasi internasional, maka target profit tahunan terpangkas sebesar 36 % sehingga turun menjadi JPY 7 milyar (USD 58 juta) dan write-off kredit macet menjadi tiga kali lipat yaitu menjadi JPY 53 milyar.

Kondisi eksternal adalah sebagai berikut:

• Penurunan/ down grading credit rating dari A to BBB oleh semua rating agency.

• Reputasi yang terganggu.
Tidak seperti Barings yang menjadi bangkrut, kasus ini tidak menempatkan Daiwa dalam bahaya kebangkrutan karena kerugian sebesar USD 1.1 milyar hanyalah 8% dari modal. Namun, reputasi Daiwa baik di jepang ataupun paar internasional menjadi turun dratis dan dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk kembali membangun reputasi yang telah didapatkan sebelum kasus ini terungkap.

• Kecurigaan U.S. Banking Authorities terhadap integrasi semua bank Jepang.
Walaupun penyebab utama dari kasus Daiwa adalah lebih bersifat internal, namun tidak dapat dipungkiri timbulnya kecurigaan otoritas perbankan di U.S akan bank Jepang sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat pengawasan menjadi lebih ketat dan adanya aturan-aturan khusus terkait pengendalian internal yang diminta oleh regulator. • Kepercayaan masyarakat yang terganggu akan perbankan dan khususnya perbankan Jepang. Integritas sistem perbankan terganggu karena kasus ini yang selama ini dibangun atas dasar informasi yang akurat dan asumsi bahwa bisnis perbankan adalah atas dasar kepercayaan dan kejujuran. Pada tahun 1995, kontribusi perbankan Jepang terhadap C&I loans (Commercial and Industrial Loans) di Unites States mencapai 17 %. Lebih jauh lagi, berdasarkan riset oleh sebuah perusahaan konsultan di United States, 53% perusahaan besar di Amerika, termasuk 500 perusahaan terkaya, melakukan bisnis dengan bank Jepang. Sehingga, dapat dikatakan kasus Daiwa ini cukup memukul bagi perekonomian dan kepercayaan masyarakat terhadap bank Jepang yang sangat tinggi menjadi menurun. Hal ini menyebabkan bank Jepang harus membayar premium yang lebih tinggi untuk dalam transaksi pendanaan sehingga mempengaruhi keuntungan yang mereka hasilkan.

• Kecurigaan U.S. banking Authorities terhadap integrasi semua bank Jepang.
Walaupun penyebab utama dari kasus Daiwa adalah lebih bersifat internal, namun tidak dapat dipungkiri Lebih jauh lagi, dalam rangka mencegah masalah perbankan kemudian terutama yang bersifat sistemik, maka

BAB 3
PEMBAHASAN

3.1 Tinjauan Teori

Berikut adalah tinjuan teori yang dapat kita gunakan untuk melakukan analisa kasus Daiwa.

SWOT (Strength, Weaknesses, Opportunities and Threats)

Analisa SWOT adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities) dan ancaman (threats). Proses ini melibatkan penentuan tujuan yang spesifik dan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mendukung dan yang tidak mendukung dalam mencapai tujuan tersebut. Aplikasi analisis SWOT adalah bagaimana kekuatan (strengths) mampu mengambil keuntungan dari peluang (opportunities) dan bagaimana cara mengatasi kelemahan (weaknesess) yang dapat membuat ancaman (threats) menjadi nyata atau menciptakan ancaman baru. jjj Frequency versus impact Dalam teori ini, suatu kejadian operasional dapat dikategorisasikan berdasarkan risiko kemungkinan terjadinya yaitu seberapa sering terjadi/ frequency dan jumlah kerugian yang dapat ditimbulkan/ impact. Ada empat tipe kejadian yaitu:
1. Low frequency/ low impact (LFLI)
2. Low frequency/ high impact (LFHI)
3. High frequency/ low impact (HFLI)
4. High frequency/ High impact (HFHI) Low Impact High Impact
Low Frequency LFLI LFHI
High Frequency HFLI HFHI

Pada umumnya bank memperhatikan risiko kemungkinan kejadian operasional yang terfokus pada low frequency/ high impact (LFHI) dan high frequency/ low impact (HFLI). Sementara low frequency/ low impact (LFLI) kurang diperhatikan karena biaya pengelolaan dan pemantauannya lebih tinggi daripada kerugian yang ditimbulkannya. Sedangkan high frequency/ high impact (HFHI) dianggap kurang relevan karena jika jenis kejadian ini timbul, maka bank akan jatuh dalam waktu singkat dan kerugian yang ada tidak dapat diperbaiki.
Kemungkinan kejadian operasional yang dianggap perlu diperhatikan dengan seksama oleh bank adalah low frequency/ high impact (LFHI), yang dianggap paling sulit untuk dipahami dan diantisipasi. Low frequency/ high impact (LFHI), juga dianggap berpotensi menimbulkan kerugian paling besar dan dapat menimbulkan kerugian besar bagi bank seperti kasus Barings.

3.2 Analisa Kasus

Tipe masalah yang terjadi

Masalah yang terjadi di Daiwa dapat digolongkan ke dalam 3 tipe yaitu (1) aktivitas perdagangan yang tidak diotorisasi (2) Kelemahan dalam pengendalian internal untuk pegawasan kepatuhan akan hukum, peraturan dan risiko (3) Pelanggaran wewenang, tanggung jawab dan kepercayaan yang diberikan kepada staff senior Daiwa yang dengan kesadaran penuh melakukan tindak kejahatan selama bertahun-tahun. Ditambah lagi adanya konspirasi tingkat manajemen yang membuat kejahatan ini semakin sulit terungkap.

Penyebab kasus Daiwa

Dalam melakukan analisa kasus Daiwa, kita dapat menjabarkan penyebab kasus tersebut ke dalam penjelasan sebagai berikut:

• Ketidaksesuaian rencana strategis dan persiapan serta pengawasan pelaksanaan.
Seperti telah diterangkan sebelumnya bahwa Daiwa melakukan langkah yang sangat agresif saat itu yaitu masuk ke dalam dunia perbankan internasional dan membuka cabang-cabang di luar negeri dalam rangka memperbesar skala usaha dan tentunya meningkatkan keuntungan, maka masuk ke dalam securities trading dan pembukaan cabang New York adalah langka nyata dari keputusan strategis ini. Daiwa, seperti hampir semua bank Jepang saat itu, awalnya menghasilkan keuntungan melalui pemberian pinjaman namun kemudian saat berkembang ke high-volume securities trading, hal ini tidak didukung oleh persiapan dan pengawasan yang baik. Contohnya adalah dokumentasi transaksi yang masih dilakukan secara manual dan tidak adanya sistem komputer untuk melakukan monitoring posisi. Ditambah lagi, pengawasan yang lemah akan pengawasan pelaksanaan keputusan strategis menjadi bumerang yang sebenarnya sangat menguntungkan bagi masa depan perusahaan.

• Tidak adanya kesadaran akan manajemen risiko dan implementasi yang baik
Dapat dikatakan bahwa tidak adanya kesadaran akan manajemen risiko operasional adalah pemicu dari masalah yang timbul. Target profit yang tinggi akan menempatkan bank dalam eksposur risiko yang tinggi dan hal ini harus dimitigasi. Mitigasi dapat dilakukan dalam berbagai macam cara seperti struktur organisasi yang jelas dan pembagian wewenang yang tidak over lapping. Selain itu, pengendalian internal harus tertuang dalam sistem dan prosedur kerja yang tepat.

• Kelemahan pengendalian internal
Pengendalian internal sangat lemah dan tidak sesuai dengan tingginya risiko yang diambil oleh kantor cabang New York. Walaupun sebenarnya, pada November 1992, Federal Reserve dan New York Banking Authority memerintahkan Daiwa untuk mengetatkan pengendalian operasional dan kembali diingatkan pada bulan November 1993.

• Kelemahan sistem dan prosedur
Dari semua kasus perbankan, banyak sekali yang disebabkan oleh kelemahan sistem dan prosedur. Dalam hal kasus Daiwa, sistem dan prosedur yang tidak dapat mendeteksi bahkan memperbolehkan unauthorised trading adalah kelemahan yang sangat mendasar.

• Tidak adanya rotasi pekerjaan
Dikarenakan Iguchi direkruit oleh Daiwa di New York, maka Iguchi diperlakukan sebagai long term local hire dan tidak terkena peraturan yang berlaku bagi semua staff Jepang di cabang asing yaitu masa kerja antara 3-5 tahun dan harus kembali ke Jepang setelah masa kerjanya habis. Dengan masa kerja yang lama pada posisi tersebut, dan didampingi oleh staff Jepang lainnya yang terkena peraturan rotasi, maka Iguchi menjadi sangat senior dan mempunyai pengalaman dalam perdagangan US government bond, yang tidak dimiliki oleh staff lainnya di Daiwa.

• Tidak adanya pemisahan pekerjaan/ segregration of duties.
Selama bertahun-tahun Iguchi melakukan rangkap jabatan sebagai Head of Trading dan Head of Settlement. Fungsi Head of Settlement yang seharusnya tidak hanya masalah administrasi namun juga melakukan review dan pengecekan atas pekerjaan Head of Treasury menjadi tidak ada karena dilakukan oleh orang yang sama dan hal ini digunakan oleh Iguschi untuk menutupi kejahatannya. Bahkan ketika akhirnya audit US meminta Daiwa untuk mengakhiri rangkap jabatan ini, Iguchi memilih untuk tetap menjadi Head of Settlement dengan bayaran yang lebih rendah, sehingga dia tetap dapat menutupi kejahatannya.

• Desentralisasi dan otorisasi serta insentif
Fungsi trading/ perdagangan di Daiwa New York saat itu dianggap terpisah dari aktivitas utama kantor pusat dan diberikan otorisasi yang tinggi kepada manajer operasional untuk menghasilkan keuntungan yang diimbangi dengan insentif yang tinggi. Otorisasi yang tinggi tanpa pengawasan yang cukup membuat Iguchi mengabaikan faktor risiko yang mungkin terjadi dan lebih memperhatikan keuntungan dan insentif yang akan di dapat.

• Kegagalan audit internal
Dalam menutupi kerugian yang ditimbulkan, Iguchi masuk ke dalam account nasabah dan menjual bonds pada rekening tersebut, kemudian membuat dokumen palsu seakan nasabah telah menyetujui penjualan tersebut. Bagi nasabah, mereka menganggap bond tersebut masih mereka miliki sementara Daiwa beranggapan bahwa nasabah telah melakukan penjualan dan telah menerima hasilnya. Audit internal Daiwa telah gagal menangkap kejadian ini karena walaupun mereka telah melakukan proses audit berulang kali pada cabang New York, namun mereka tidak melakukan cross-check pada bank kustodian yaitu Bankers Trust New York.

• Kegagalan audit eksternal dan audit pemerintah
External audit Daiwa, Showa Ota (bagian dari Ernst & Young) sepertinya tidak melakukan pemeriksaan terhadap cabang New York. Inspeksi yang dilakukan pada tahun 1989, yang dilakukan oleh NY State Banking Authorities ditemani oleh pemeriksa dari The Fed, tidak mendeteksi apapun. Dua inspeksi selanjutnya, pada tahun 1992 oleh pemeriksa Fed dan pada tahun 1994 oleh oleh auditor Japan’s Ministry of Finance (MOF) juga tidak mendeteksi kejahatan ini. yang sebenarnya melakukan audit regular setiap tiga tahun sekali

• Keterlambatan penanganan masalah
Ketika Iguchi akhirnya menulis surat pengakuan kepada Presiden Daiwa pada tanggal 24 Juli 1995, para pejabat Daiwa menyadari buruknya pengawasan yang telah mereka lakukan dan menjadi kebingungan. Presiden Daiwa Akira Fujita, baru melaporkan kejadian ini dua minggu kemudian secara informal kepada Ministry of Finance (MOF), dan kemudian baru melaporkan hal ini secara resmi kepada MOF dan the Fed pada 18 September 1995. Keterlambatan ini menimbulkan masalah yang lebih berat bagi Daiwa dengan tuduhan yang dilancarkan pemerintah US sehingga sanksi yang dituduhkan tidak hanya kepada Iguchi namun juga kepada Daiwa.

Hal yang khusus pada kasus Daiwa

Kasus Daiwa menjadi sangat unik karena memiliki beberapa hal yang sangat khusus, yaitu

• Tidak hanya sekedar kejahatan perbankan, namun juga melibatkan pejabat tinggi dalam institusi tersebut yang dituduh melakukan kejahatan level kedua dengan menutupi kejahatan yang dilakukan oleh staff-nya dan bahkan melakukan pemalsuan data dan membohongi pemerintahan United States.
• Adanya benturan budaya antara Jepang dan US, yaitu cara penanganan masalah yang berbeda. Bagi Jepang, kasus yang terjadi sebisa mungkin diselesaikan dahulu secara internal sebelum mengungkapkannya kepada regulator dan masyarakat. Sementara bagi United States, laporan secepat mungkin kepada regulator adalah penting demikian pula dengan pemberitahuan ke masyarakat. Hal ini menimbulkan kecurigaan oleh regulator US kepada Daiwa sehingga terjadi miskomunikasi pada awal penyelidikan.
• Kejahatan yang dilakukan telah berlangsung selama sebelas tahun tanpa diketahui dan bahkan terungkap dengan pengakuan si pelaku.
• Hukuman dan denda terbesar yang pernah dijatuhkan oleh United States, yaitu USD 340 juta dan penutupan semua kantor di United States tanpa terkecuali. Hal ini menunjukkan keseriusan United States akan kejahatan perbankan dan seakan untuk memberikan efek jera agar tidak terulang kembali.
• Efek jangka panjang yang ditimbulkan dan masih berlangsung sampai saat ini. Daiwa yang kemudian berubah nama menjadi Resona Bank saat ini masih belum membuka kembali kantor cabang di luar negeri dan masih berfokus pada pasar domestik. PT. Bank Resona Perdania di Jakarta adalah satu-satunya bisnis internasional di luar Jepang yang dimiliki Resona Bank saat ini, dengan posisi sebagai pemegang saham sebesar 43.42 % dan sebagai management controller.

Perubahan yang terjadi setelah kasus Daiwa

Dunia perbankan mengalami guncangan yang cukup berat setelah kasus Daiwa terungkap dan dapat dikatakan kasus ini memberikan pelajaran yang sangat baik, khususnya bagi pemerintah Jepang dan United States dan umumnya bagi dunia perbankan internasional. Japanese Ministry of Finance melakukan perbaikan dalam sistem perbankan nasional dengan terlebih dahulu melakukan penelitian untuk merumuskan sistem pengawasan bank yang lebih efektif. Perbaikan juga dilakukan dengan melibatkan diskusi khusus dengan otoritas perbankan negara lainnya, pengawasan yang lebih ketat untuk bank Jepang yang ada di luar negeri, penguatan sistem audit internal pada semua bank jepang dan perumusan penanganan yang tepat untuk tindakan bank yang dianggap illegal. Federal Reserve mengeluarkan peraturan baru yang meningkatkan otoritas dan sistem pengawasan Fed tidak hanya terhadap bank lokal namun juga terhadap bank asing yang beroperasi di United States. Peraturan khusus dikeluarkan oleh New York State Banking Department bahwa semua pegawai bank pada posisi penting harus mengambil cuti konsekutif selama sepuluh hari berturut-turut. Kasus Daiwa ini dipelajari secara serius tidak hanya oleh Jepang dan US, namun juga oleh semua negara lainnya dan banyak peraturan yang dikeluarkan dalam rangka memperkuat sistem perbankan stiap Negara tersebut. Secara umum, perbankan internasional menarik pelajaran dari kasus ini dan manajemen risiko menjadi sangat diperhatikan dan berkembang sangat pesat untuk memastikan bahwa tingkat keuntungan yang hendak dicapai bank juga mempertimbangkan level risiko yang mungkin terjadi dan bagaimana cara untuk melakukan mitigasi risiko tersebut.

BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Manajemen operasi harus memperhitungkan risiko yang mungkin terjadi dan penerapan manajemen risiko adalah keharusan untuk menghindari kerugian yang mungkin terjadi dan memperkirakan seberapa besar kemampuan bank untuk menyerap kerugian tersebut. Sistem manajemen risiko yang berhasil harus dapat mencakup sedikitnya empat prinsip dasar, yaitu:
1. Harus adanya pengawasan aktif dari Dewan Direksi dan Senior Management.
2. Harus adanya sistem identifikasi, pengukuran dan pelaporan risiko yang komprehensif.
3. Harus adanya sistem pengendalian internal yang menyeluruh dan menitik beratkan pada pemisahan tugas dan tanggung jawab/ segregation of duties.
4. Harus adanya struktur yang baik dalam penentuan limit dalam pengambilan risiko.…...

Similar Documents

Premium Essay

Operational Management

... Operations Management Assignment 1 GANESH PGDM12/18 | 1. How will you describe the overall strategy of Ginger Hotels in the hotel industry? Ginger Hotels has a strategy of providing the Luxury of Simplicity. The basic strategy for a hotel industry is Guest Satisfaction by giving a feel of “HOME AWAY FROM HOME”. They came with a new strategy called “HELP YOURSELF” 2. Is their operations strategy consistent with the overall strategy? What are the operational elements of Ginger hotels that provide this strategic dimension to the operations? Yes, their operational strategy is consistent with the overall operating strategy. Ginger hotel is a service oriented firm. Their innovative services and products were the main reasons for their business to grow huge and to obtain maximum profits. Therefore it has to offer quality and better services to stay in the market. The services are provided by them in two ways - standardized way and customized way. Standardized way includes the routine services provided like facilities (TV, Heater, AC) in rooms, room services, other things offered by a hotel. Customized services include all the innovative smart services (self – services) provided in this hotel. This kind of flexibility helps them to retain their customers and bring in new customers. Hence Ginger Hotels is consistent with the overall operating strategy Their Operations Strategy is consistent with their as seen from the services they provide. The operational elements......

Words: 403 - Pages: 2

Premium Essay

Sales Management in Commercial Banks and Case of Deposit Growth.

...Sales management in commercial banks and case of deposit growth. Recent development of financial institutions in Nepal had forced the banking industry to push marketing of its deposit products. We can see the advertisement of deposit products in every newspapers, radio and televisions channels. There are stalls of banks and financial institutions in every business fairs and exhibitions. The focus is selling their respective deposits products. Once, there were three banks namely, Nepal bank ltd, Rastrya banejaya bank and agriculture development bank ltd but today there are 32 commercial banks in Nepal and it is obvious to have intense competition in limited market. Beside financial positions and branch location it is fact some commercial banks have increasing trend in their deposits but some are not succeeding. The interest rate on deposit rate are similar, the account opening amount are somewhat same, the customer care is same but why some are succeeding and some are not because it is the selling strategy particulars banks have adopted. The most important things on today world is the way of communication an organization does with outsiders. In another word it is the marketing process or in corporate word we can say selling the products. It is obvious that in every business sales matter and for sales it is way of communication. If any body wants to succeed in business, then it is necessary to be great in sales as well. In fact, the boss of a company has got to be......

Words: 977 - Pages: 4

Premium Essay

Operational Management

...to ultimately decide if the decision made will be an ethical one. Many times the person making the decision must choose between the ethical approaches, even if it means hurting the organization, or the unethical approach which goes against personal and organizational beliefs but will benefit the organization. Take stem cell research, for example. Some politicians have refused to support funding stem cell research and have even attempted to set limits on the amount of research to be considered legal. In Maryland recently a bill was introduced to fund stem cell research. Several State Senators attempted a filibuster to prevent the approval of the bill and would have effectively prevented the funding (Berman, 2006). The politicians in this case must make a decision to either support or oppose the authorization of funding for stem cell research. This decision has strong ethical attachments. Should the funding be approved so that lives might be saved in the future? Every senator in Maryland had to make a conscious decision as to whether or not his or her personal beliefs would outweigh the beliefs that the research might someday save hundreds, if not thousands, of lives. This is a prime example of the effects ethics have on the decision making process. Technologies introduced into the workplace are supposed to make things easier for everyone but what happens when technology becomes the problem? As the information age progresses many new technologies are introduced to speed up......

Words: 1086 - Pages: 5

Free Essay

Operational Management

...only make them more admired organisations by the consumers but also enable to be more profitable by garnering the positive brand image among the consumers as well as by making savings by cutting down the costs incurred during offering the conventional modes of services. The article also throws light on the advent of various organisations like Payit Green Alliance which enable the consumers and the organisations to understand the importance of making a change from paper based services to online applications. Various consumer surveys determined that most consumers want to make a shift to methodologies which ensure cutting down the carbon footprints and contribute towards the greener options. The survey also determined that right now most banks have large amount of services done by conventional means and hence there is a large scope for these organisations to improve upon. Other organisations which have started off with this initiative are Fisreve and CheckFree which is also a part of Fiserv in order to bring about the movement for the green strategy for the banking and financial organisations. Strategy maps: a step-by-step guide to measuring, managing and communicating the plan- Cam Scholey The article emphasis on the fact that a good strategy is an incomplete effort to provide a solution to a problem unless it is executed in a manner that demanded by its blueprint. This means that any strategy should have a proper roadmap to implement it in the way so that the success......

Words: 956 - Pages: 4

Premium Essay

Operational Management

...A company should be concerned to satisfy its customers’ requirements for fast and dependable services at reasonable price, as well as helping its own suppliers to improve services they offer. There are five basic performance objectives and they apply to all types of operation: • Quality • Speed • Dependability • Flexibility • Cost (Slack, N. et al, 2001). These operations performance objectives are analysed here in accordance to TMC. 1) Doing things right by providing error free goods and services, which will satisfy the customers, is known as ‘quality’. According to the case study, Toyota’s vehicles consistently rank near the top in third-party customer-satisfaction surveys. Being voted by many market research and surveys as the car of the year for several years it shows that, Toyota has a successful record worldwide. Because of the good quality Toyota’s success kept going, where in 1995, Toyota was the best car in the Middle East. Also, TMC has produce a good quality cars that are quit and do not emit unpleasant fumes, such as more than 40 emission-control systems and dozens of technologies that have improved passenger-car safety (Ahmed, A., 2003, Coursework). 2) An other performance objective is speed, which means by doing things fast, to minimise the time between the order and the availability of the product or service that gives the customer e speed advantage. The TMC’s techniques are focussed operations that reduce complexity by using simple and...

Words: 1635 - Pages: 7

Premium Essay

Operational Plan Td Bank

...Analysis TD Bank As a current employee of TD Bank, having to conduct a Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats (SWOT) analysis on a company I am a stakeholder, I have a knew perspective on how strategic and operational planning has effect on me. As a part of management understanding the strategic vision of the company will enable management to effectively carry out the operational mission thus ensure all internal and external shareholders whether unique customer service, communicating across the social media with customers and employees, produces What’s In IT For Me (WIIFM) experience which means revenue. TD Bank strengths rely upon their ability to WOW their customer base with being Americas Most Convenient Bank, providing a unique branding within the banking community. Proven business models they have ignored. The only bank that stays open until 8 pm, provides doggie stations equipped with water and snacks for customers animals, and is open most holidays. In the state of South Carolina in which I live and work, The South Carolina TD Bank Campus is the only bank owned property and is the jewel of the TD Canada and TD US. The company has brought the largest amount on professional banking jobs in largely manufacturing state. Community involvement the bank has it. There is a TD Convention Center which hosts most major indoor invents in the state. However, there are always vulnerabilities. Weaknesses exist in every facet of the banking industry; however, TD......

Words: 650 - Pages: 3

Premium Essay

Operational Risk Management

...≈√ F M A G u i d e l i n e s on Operational Risk Management These guidelines were prepared by the Oesterreichische Nationalbank in cooperation with the Financial Market Authority Published by: Oesterreichische Nationalbank (OeNB) Otto-Wagner-Platz 3, 1090 Vienna, Austria Austrian Financial Market Authority (FMA) Praterstraße 23, 1020 Vienna, Austria Produced by: Oesterreichische Nationalbank Editor in chief: Günther Thonabauer, Communications Division (OeNB) Barbara Nösslinger, Staff Department for Executive Board Affairs and Public Relations (FMA) Editorial processings: Chapter I and III: Roman Buchelt, Stefan Unteregger (OeNB) Chapter II and IV: Wolfgang Fend, Radoslaw Zwizlo, Johannes Lutz (FMA) Design: Peter Buchegger, Communications Division (OeNB) Typesetting, printing and production: OeNB Printing Office Published and printed at: Otto-Wagner-Platz 3, 1090 Vienna, Austria Inquiries: Oesterreichische Nationalbank Communications Division Otto-Wagner-Platz 3, 1090 Vienna, Austria Postal address: Post Office Box 61, 1011Vienna, Austria Phone (+43-1) 40420-6666 Telefax (+43-1) 40420-6696 Austrian Financial Market Authority (FMA) Executive Board Affairs & Public Relations Division Praterstraße 23, 1020 Vienna, Austria Phone (+43-1) 24959-5100 Orders: Oesterreichische Nationalbank Documentation Management and Communications Services Otto-Wagner-Platz 3, 1090 Vienna, Austria Postal address: Post Office Box 61, 1011Vienna, Austria......

Words: 50825 - Pages: 204

Free Essay

Operational Management

...Gary Kaplan was trying to achieve change at Virginia Mason. He envisioned the transformation of Virginia Mason Medical Center into the quality leader in health care and sought to lead the organization toward this vision. When Dr. Kaplan joined VMMC what attracted him to the medical field was a collaborative team approach and Virginia Masons’ unique culture that was created in the early 1900’s. With time VMMC started to face challenges, competition was fierce and VMMC soon began to experience financial troubles. In addition, its employees were unhappy and the staff morale around the hospital was declining. Kaplan noticed that change had to be made to the way VMMC ran its hospital. Kaplan proposed that VMMC follow Toyota Production System management method to restructure the way it ran its physicians, nurses and support staff. He felt that NMMC’s goals were similar to Toyota, especially putting the customer/patient first, focus on quality and safety, and a commitment to employees. Kaplan was trying to achieve this change while keeping the unique culture that VMMC began with so many years ago. 2. How does the Toyota Production System fit into his strategy? Dr. Kaplan and executives at VMMC had created a strategic plan focused on becoming the quality leader in healthcare; however he lacked a system to achieve this goal. Kaplan felt the Toyota Production System (TPS) was an appropriate match for the VMMC because of the similarities in goals that they both shared and desire to......

Words: 365 - Pages: 2

Premium Essay

Hsbc Operational Management Report

...ASSIGNMENT 2 by (Name) Course Tutor University City and State Date Executive Summary HSBC bank is a financial institution, whose conceptualization age dates back to 1865 in Hong Kong. Commonly known as the HSBC Holdings plc, the multinational bank expanded and it opened other branches in several countries while offering financial and banking services. With its headquarters located in London, the bank is ranked as the fourth largest in the world. In Oman, however, the experienced problems within the bank are not what one would expect from a financial institution with such a reputation. Since its establishment in 1948, the bank has always offered top-notch services with fewer mistakes in Oman. Currently, there have been reports that the country is experiencing problems with their ATM machines. Customers are unable to use their ATM cards to access their accounts. The administrative sector is also having problems involving registration of clients to their newly introduced Advance Credit cards. The process has become strenuous for its customers. This study aims at identifying the problems and resolving it through operations management theories in gaining global competitiveness. According to the theories of operations management, organizations can solve their problems in three distinct ways. The six-sigma approach suggests identifying the defects and solving them afterwards. The lean approach, similarly advocates for the identification of......

Words: 3423 - Pages: 14

Premium Essay

Operational Management

...Operations Management Course contact information • Instructor Dr. Chetan Soman Office & Phone: 4-J, 4839 e-mail: chetan@iimahd.ernet.in Objective of course: To gain an appreciation of the strategic importance of operations and how operations relate to other business functions To develop a working knowledge of the concepts and methods related to designing and managing operations Organizational Functions  Finance  Secures financial resources at favorable prices and provides funds for operations.  Marketing  Assesses customers’ wants, and promote organizations goods or services.  Operations  Creates products & services 4 What is Operations? • Operations – processes that produce goods and services • Processes – fundamental activities of organizations that use resources to transform inputs into goods and services Operations as a Transformation Process INPUT Material Machines Labor Management Capital OUTPUT Goods Services TRANSFORMATION PROCESS Feedback Transformation Processes Physical Locational Exchange Physiological Psychological Informational (manufacturing) (transportation/ warehouse) (retail) (health care) (entertainment) (communications) Food Processing Industry Inputs Raw Vegetables Metal Sheets Water Energy Labor Building Equipment Processing Cleaning Making cans Cutting Cooking Packing Labeling Output Canned vegetables Hospitals Inputs Doctors, nurses Hospital Medical Supplies......

Words: 1280 - Pages: 6

Premium Essay

Operational Management

...such as rent, travel, training, depreciation etc. e) Operating Profit: This is equal to Gross Profit (c) – Indirect Costs (d) and is a measure of profits earned by the company through its trading activities. f) Pre-Tax Profit: This is obtained by either adding interest received on cash deposits in bank or deducting interest payable on loans from the operating profit. g) Post-Tax Profit: This is calculated after payment of taxes on any interest made. h) Retained Profit: For a limited company, some amount of the post-tax profit can be distributed among the shareholders as dividend. What is left is called retained profit. If the board of directors themselves are shareholders, they can reduce their wages (increase operating profits but pay more corporation tax) and take more dividends instead. This retained profit is then added to previous years profit and recorded in the balance sheet. 2. Balance Sheet A balance sheet summarises the Assets (what is owned) and Liabilities (what is owed) of the business. Both these can be split into long term and short term. Long term assets or fixed assets include plant, machinery, land etc and short term assets include cash in bank, debtors and current stock. Long term liabilities include owners’ funds such as retained profit or shareholders capital. Long term loans also come under long term liabilities. Short term liabilities mainly include creditors and short term loans repayable within 12 months. In a balance sheet, the total......

Words: 5242 - Pages: 21

Premium Essay

Case Study of Management Operational Control

...Management Accounting Research 19 (2008) 324–343 Operation of management control practices as a package—A case study on control system variety in a growth firm context Mikko Sandelin ∗ Helsinki School of Economics, Department of Accounting and Finance, P.O. Box 1210, FIN-00101 Helsinki, Finland Abstract This empirical case study examines the operation of management control practices as a package in a growth firm context by paying particular attention to the couplings among cultural, personnel, action and results controls. The analysis focuses on two different management control packages in the face of similar contingencies at different points of time. The paper argues that the functionality of a control package depends on internal consistency, specifically on the reciprocal linkages of design and use between a primary mode of control and other control elements. Moreover, it argues that control package variety is driven by the way in which the management responds to functional demands. Two different control packages are considered equifinal to the extent of limited operational complexity, whereas an accounting-centric control package is also sufficient in the face of increasing levels of operational complexity. © 2008 Elsevier Ltd. All rights reserved. Keywords: Management control package; Control system variety; Internal consistency; Functional demands; Equifinality; Growth firm 1. Introduction This empirical case study examines the operation of management......

Words: 13689 - Pages: 55

Premium Essay

Operational Management

...quite low and the processes that produce these items are usually highly reliable, so that defects are rare, conversely, high cost, low volume items that have large cost associated with passing defective products often require more intensive inspections. We have all had the experience of purchasing a product only to discover that it is defective in some way or does not function the way it was designed to. In this way, I would do the inspection of chip legitimately to make sure that the calculator produced is of best quality as per the requirement of consumer. References Schroeder, R. G., Goldstein, S. M., & Rungtusanatham, M. J. (2013). Operations Management in supply chain (6 th ed.). New Delhi, India: McGraw Hill Education (India) Private Limited. Jacobs, R. F., Chase, R. B. (2013). Operations and Supply Chain Management (13th ed.).New Delhi, India: McGraw Hill Education (India) Private Limited ...

Words: 552 - Pages: 3

Premium Essay

Operational Management

...Colorado Technical University Online Operations Management Principles Phase one Individual Project One Kimberley Burton November 21, 2011 Outsourcing is a very increment part of most companies today. Most companies large as well as small have outsourced part of their company to other companies in the business sector. Outsourcing has gained a great deal of momentum in the past few years. It has been found that outsourcing had become a tremendous benefit to the financial savings of a company. There are numerous rewards to outsourcing and the value is enormous. For the airline industry outsourcing has become a crucial part of business and is used to enhance the efficiency as well as the sustainability of the service provided. The outsourcing to a third party also helps in price reduction saving the company as well as customers money. In order for the airline to endure the optimum advantages of outsourcing, they must engage in an informed conscious selection of the elements that have been outsourced and elements that may require outsourcing. One of the main elements that are outsourced in the airline industry is the cleaning of the aircraft in and out. Do to the fact that this task is tedious and requires a great deal of expertise, the airline companies need to outsource to a smaller company that is used to the increment It would cost the airlines an exurbanite amount to hire and train their own employees to accomplish this task. It is much easier......

Words: 958 - Pages: 4

Premium Essay

Project Management in Banks: a Case Study

...A Project Management approach to Service Delivery within the Financial Services Sector; A case study of CAL BANK 1.1 Background The competitiveness of service business is contingent, at least in part, on the design and configuration of quality service delivery and the value proposition inherent in such services (Frei and Harker, 1999; Johnston and Clark, 2005; Verma et al., 2002). Therefore,congruence high level of alignment between a service experience and value for money is crucial for success of all organizations. From this perspective, a study aimed at investigating how project management can be successfully applied to service firms (banks) to lead to quality service delivery for customers is highly justified, as customers are the life blood of any organization. Indeed, several empirical studies suggest that firms achieve higher levels of profitability and performance through successful implementation of project management (PM) (Sauser et al, 2009; Lockett et al, 2008; Chin, 2004; Atkinson et al, 2006; Alleman, 2008; Gallo and Gardiner, 2007; Fernandez and Fernandez, 2009). Moreover, project management has been proven to have the ability to enhance flexibility, remove bureaucracy and also to create room for adaptability (Gomes et al, 2008; Lockett et al, 2008; Lord, 1993). Similarly, the argument for providing quality service has far been advanced by many scholars both in marketing and management circles. For example, Heskett & Sasser, (2010) documents the......

Words: 2668 - Pages: 11